Pakaianku dan aku ...
Suatu hari Nasruddin diundang ke sebuah kondangan. Ia pun datang memenuhi undangan itu. Namun ia tidak diijinkan masuk oleh petugas karena dianggap pakaiannya tidak layak, jubahnya kurem. Maka ia segera kembali ke rumahnya dan mengganti pakaiannya dengan yang terbaik yang dimilikinya.
Segera ia kembali ke kondangan itu. Ketika ia masuk, si penyelenggara kondangan segera menghampirinya, menyambutnya dan menyampaikan rasa hormatnya atas kesediaan Nasruddin hadir di pesta itu, bahkan menemaninya berjalan masuk dan mempersilahkan Nasruddin duduk di sisi kepala-meja perjamuan.
Ketika makanan dihidangkan, Nasruddin mengambil sup dengan sendoknya dan menuangkannya ke bajunya dan berkata, “Makanlah wahai jubahku, makanlah ! Ini jelas sekali bahwa pada hari ini engkaulah tamu kehormatan yang sesungguhnya, dan itu bukanlah aku.”
Bandung - 23/02/2009 Mulla Nasruddin stories from the Book of THE SUFI by Idris Shah, interpretasi dan alih-bahasa oleh wiwin.wr ©2009. Pernah di posting di weBlog Beranda Suluk di bawah judul Nasruddin Kondangan. Di bawah ini saya tambahkan ulasannya. … [ mau baca lanjutannya ? ] …

Suatu hari Nasruddin diundang ke sebuah kondangan. Ia pun datang memenuhi undangan itu. Namun ia tidak diijinkan masuk oleh petugas karena dianggap pakaiannya tidak layak, jubahnya kurem. Maka ia segera kembali ke rumahnya dan mengganti pakaiannya dengan yang terbaik yang dimilikinya.
Syahdan Nasruddin Hoja, ditugasi menjadi hakim lokal. Suatu saat seorang ibu menemuinya bersama seorang puteranya. Ia mengeluhkan bahwa putranya punya kegemaran memakan gula-gula yang sulit dikendalikan. Ia meminta Nasruddin untuk memberitahukan kepada putranya agar berhenti memakan gula-gula. Nasruddin mengangguk dengan bijak, lalu menyuruhnya untuk kembali dalam dua minggu.
Syahdan di sebuah padepokan kecil di lereng gunung nun jauh disana bermukim seorang guru bersama dengan murid-muridnya. Bangunan-bangunan di Padepokan itu sangat bersahaja tetapi tampak ketertiban dan kebersihannya sangat dijaga. Dinding-dindingnya dari susunan batu-bata yang sangat rapih. Pintu dan jendelanya yang berukuran cukup lebar dibuat dari kayu pohon pinus yang banyak terdapat disekitar padepokan itu. Atapnya disusun dari paduan warna-warni genting terakota. Halamannya bersih, tanamannya tertata rapi, bunga-bunga bermekaran. Angin sejuk bertiup sepoi-sepoi memberikan suasana segar di tengah keheningan. Sungguh sangat mencerminkan kebersihan hati para penghuninya.
Seorang lelaki yang baik hati membeli seorang budak. Budak itu berakhlak baik dan kuat agamanya. Kemudian lelaki itu bertanya kepada budak yang dibelinya, “Hambaku, kamu ingin makan apa ?”.

